Rekomendasi Intervensi pada Kasus Cerebral Palsy

Berikut adalah hasil seleksi yang dilakukan oleh Pustakawan STIKes RS Dustira dari hasil penelitian mahasiswa dengan kasus  Cerebral Palsy. Informasi abstrak karya tulis ilmiah mahasiswa ini dapat diakses di Repositori STIKes RS Dustira.

Tanggal penyusunan:  09-04-2026
Oleh: Shanti Maulani, S.IIP

No Penulis Intervensi Tahun  Hasil 
01 Muhammad Rasyid Asyifa

Neuro Development Treatment

2025 Terapi dilakukan sebanyak lima kali, dengan fokus pada stimulasi sensorik, inhibisi, dan latihan kontrol postural. Hasil evaluasi menggunakan Skala Ashworth menunjukkan tidak ada penurunan spastisitas, sementara pemeriksaan Pengukuran Fungsi Motorik Kasar (GMFM) menunjukkan skor yang tetap rendah, menandakan tidak adanya peningkatan dalam kontrol postural dan kemampuan fungsional motorik. Intervensi NDT tidak menunjukkan perubahan signifikan pada spastisitas atau kemampuan motorik fungsional pada pasien dalam waktu lima sesi terapi. Diperlukan peningkatan frekuensi dan durasi terapi serta keterlibatan orang tua dalam proses terapi untuk mendukung perkembangan lebih lanjut anak dengan Cerebral Palsy. Penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan durasi terapi yang lebih panjang disarankan untuk mendapatkan hasil yang lebih representatif.
02 Budi Rudiansyah Aliman

Trunk Exercise dan Neuro Development Treatment

 2025 Hasil yang diperoleh setelah diberikan inetervensi fisioterapi sebanyak 5 kali didapatkan hasil pemeriksaan spastisitas dengan menggunakan Modified Asworth Scale tidak mengalami perubahan sama sekali,Pemeriksaan kemampuan Motoric dengan menggunakan gross Motor Function Measurement (GMFM) tidak terdapat peningkatan didalamnya Dimana didalamnya terdapat hasil Dimensi A T1-T5 : 88,2% Dimensi B T1-T5 : 88,3% Dimensi C : T1-T5 ; 76,1%. Penatalaksanaan fisioterapiyang diberikan pada kasus Cerebral palsy Diplegia dengan intervensi Trunk exercise dan Neuro Development Treatment tidak memberikan yang signifikan dalam meningkatkan keseimbangan dan spastisitas dalam keseimbangan berlutut pada anak dengan kondisi Cerebral palsy diplegia.
03 Yohana Oglivia Toyo Terapi latihan  2025 Setelah melakukan enam kali pemberian intervensi fisioterapi didapatkan hasil ini adanya penurunan nyeri tekan dari T1 hingga T6 yaitu dari 7/10 hingga 5/10, nyeri gerak dari T1 hingga T6 yaitu 5/10 hingga 3/10, adanya peningkatan derajat lingkup gerak sendi dari T1 hingga T6 yaitu gerakan fleksi sebesar 180, peningkatan pada gerak fleksi dari T1 sampai dengan T6 yaitu dengan nilai 3- sampai dengan nilai 3+, adanya peningkatan lingkup gerak sendi dari T1 hingga T6 yaitu 1100 hingga 1280, adanya peningkatan kesimbangan dari T1 hingga T6 yaitu 35 (berjalan menggunakan bantuan) hingga 42 (mandiri), dan adanya peningkatan aktivitas fungsional dari T1 hingga T6 yaitu dari 51(buruk) hingga 63(buruk). masing masing permasalahan yang dirasakan pada atlet dengan Sprain Anterior Cruciate Ligament dapat diatasi dengan Ultrasound dan Terapi Latihan. Hal ini dapat membuktikan bahwa ultrasound dapat menurunkan nyeri dan Terapi latihan dapat meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan Lingkup Gerak Sendi, dan keseimbangan tubuh, sehingga dapat membantu kemampuan atlet untuk melakukan aktivitas fungsionalnya.
03 Dini Rindhu Ambarsari Neuro Development Treatment  2025 Intervensi menggunakan metode Neuro Development Treatment dengan fokus pada Stimulasi dan Fasilitasi, dilakukan sebanyak 6 kali sesi latihan di Unit Pelayanan Disabilitas Tangerang Selatan. Evaluasi Menggunakan XOTR Untuk Tonus Otot Postural dan Gross Motor Function Measurement (GMFM) dimensi A (Berbaring dan Berguling) dan B (duduk). Hasil pemeriksaan tonus postural dengan XOTR tidak mengalami perubahan sama Sekali, Pemeriksaan kemampuan motorik dengan menggunakan Gross Motor Function Measurement (GMFM) didapatkan adanya peningkatan pada dimensi A yaitu terlentang dan berguling dari hasil T1 76,47% menjadi T6 82,35% dan dimensi B yaitu duduk dari hasil T1 51,66% menjadi T6 58,37%. Kesimpulan: Penatalaksanaan fisioterapi yang diberikan pada kasus Cerebral palsy Athetoid e.c Asfiksia dengan intervensi Neuro Development Treatment dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar pada anak dengan kondisi Cerebral Palsy Athetoid. Meskipun dalam hasil evaluasi keduanya tidak ada perubahan yang signifikan karena diperlukan durasi intervensi yang lebih Panjang untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal.
04
Mochamad Haikal Mubarok
Latihan Stabilisasi Duduk dan Kontrol Postural  2025 Penerapan intervensi terapi latihan Hold Relax untuk menambah lingkup gerak sendi, dan Resisted Active Exercise untuk meningkatkan kekuatan otot. Setelah melaksanakan 5 kali terapi, didapatkan hasil peningkatan lingkup gerak sendi fleksi-endorotasi hip dextra T1 : 150-00-1100 menjadi T5 : 150-00-1220 , dan peningkatan kekuatan pada grup otot hip T1 : 3+ menjadi T5 : 4. dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian intervensi terapi latihan Hold Relax dapat menambah lingkup gerak sendi, dan Resisted Active Exercise dapat meningkatkan kekuatan otot.
05 Sion

Intervensi Play Therapy dan Dynamic Surface Exercise Therapy

 2025 Dalam tujuh sesi terapi, hasil menunjukkan bahwa Play Therapy efektif menurunkan spastisitas, sementara Dynamic Surface Exercise Therapy meningkatkan kemampuan motorik kasar, dengan skor GMFM meningkat dari 32% menjadi 42%. Meskipun ada perkembangan positif, pencapaian masih di bawah harapan untuk usia pasien. Kesimpulannya, intervensi fisioterapi ini memberikan dampak positif, tetapi efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh frekuensi dan durasi sesi. Oleh karena itu, penting untuk melanjutkan terapi secara rutin dan mempertimbangkan program di rumah untuk mendukung perkembangan pasien, serta melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi strategi yang dapat meningkatkan efektivitas terapi di luar sesi klinis.

Data Update: 09-04-2026. (SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *